Suatu hari, saya memposting sebuah lelucon seperti di bawah ini:
Lihat gambar ka’bah jadi ingat sebuah lelucon ilmu komunikasi, ceritanya begini, ada orang sunda dan orang jawa yang ngga bisa bahasa lain selain bahasa ibu (sunda dan jawa) dan arab dikitlah.
Mereka berdua naik haji. Nah si orang jawa kebingungan mencari jalan ke Masjid. Untungnya dia ketemu dengan orang sunda ini, dan dia nanya. Sayangnya ngga ada yang ngerti bahasa satu sama lain. Akhirnya mereka menemukan cara supaya bisa berkomunikasi dengan baik, yaitu dengan memakai protokol yang sama. Kedua-duanya tahu sedikit bahasa arab dan ngerti arti surat al fatihah.Orang jawa itu tanya, ihdina shirotol Masjid, sholat, sambil bikin gerakan supaya ditunjukkan arah. Si orang sunda ngerti kalau orang jawa ini minta ditunjukkan arah ke masjid. Lalu dia menjawab sirathal mustaqim, sambil menunjukkan arah jalan yang lurus. Wah si orang jawa berterima kasih dengan bersalaman, lalu dia pergi ke masjid. Ketika jalan, eh dia nemukan ada dua jalan satu agak serong ke kiri satu lagi agak lurus. Dia agak bingung akhirnya dia mau belok ke kiri. Orang sunda ternyata masih memperhatikan si orang jawa ini mau belok ke jalan yang serong kiri itu. Lalu orang sunda ini teriak, wa ladh dhooolliiiin, wa ladh dhoooolliiiiiin. Orang jawa itu dengar teriakan orang sunda, dan akhirnya pergilah dia ke jalan yang benar. Sirothol mustaqim tea. Wah selamatlah dia sampai ke masjid pada akhirnya.
Ternyata ada orang yang menganggap lelucon itu sebagai penghinaan terhadap ayat al quran. Tanggapannya seperti ini:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”(Terjemah at-Taubah:65)
Ayat ini turun berkenaan dengan orang2 munafiq yang mengolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Akan walaupun kita bukan orang munafiq (semoga) tetapi kita harus sangat berhati2 dengan ayat2 Allah maupun sunnah Rasul ‘alaihi shalatu wa salam dan seluruh ajaran Islam ini, jangan sampai kita termasuk dengan keumuman lafadz “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” apalagi khusus al-Qur’an Allah tegas mengatakan “sesungguhnya Al Quraan itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.” (Terjemah ath-Thariq :13-14)
Tidak selayaknya kita bersenda-gurau dengan ajaran Islam ini apalagi ayat2 al-Qur’an, semoga bisa menjadi renungan kita semua. Seorang mu’min hatinya semestinya akan tersentak ketika ajaran Islam, khususnya ayat2 al-Qur’an dijadikan senda-gurau apakah kita tersentak atau malahan ikut tertawa ataupun tersenyum? hanya Allah yang mengetahui dan Allah tidak lagi menurunkan ayat khusus untuk menegur kita, berbeda dengan orang2 munafiq zaman Nabi ‘alaihi shalatu wa salam yang langsung Allah peringatkan mereka.
Allahu a’lam
Aku sih sederhana aja, yang aku pake adalah bahasa Arab yang diinterpretasi secara sederhana (diterjemah) oleh orang awam. Aku ngga perlu membahas bahasa arab terlalu jauh. Wong aku ngga bisa koq. Kebetulan saja orang sunda dan jawa yang saya tuliskan itu hanya memahami ihdina sirotol sebagai tunjukkan jalan, sirotol mustaqim sebagai jalan lurus, wa ladh dhoollin sebagai orang sesat (Coba lihat di sini). Terjemahan yang sesuai dengan kaidah bahasa arab, meneketehe.
Yah, terserah saja deh orang mau anggap aku memperolok ayat al quran atau ngga. Hanya Allah yang bisa menentukan, mungkin nanti diakhirat bisa kita lihat hasil akhirnya. Sampai saat ini, aku tetap merasa benar. Mungkin hal seperti ini bisa dilihat juga polemik di jagad maya yang lain.
kalem aja, mas. kadang2 memang ada orang2 yang merasa akhlaknya lebih bagus dari orang lain dan “berkenan” untuk memperbaiki akhlak orang lain yang (dianggap) nggak sebagus akhlaknya dia
By: Shelling Ford on October 23, 2007
at 4:54 pm
Sabar saja, Mas. Banyak juga orang yang sangat-mudah tersinggung. Untuk Mas cuma diperingatkan. Lha saya malah sudah dianjing-anjingkan.
Salam.
By: Emanuel Setio Dewo on October 23, 2007
at 5:30 pm
@Ford
Wah, pada awalnya panas juga lho. Maklumlah aku masih berdarah muda. Biasanya sih, “tak jabanin” kalo ada yang ngomong begitu ke aku.
@Dewo
Salam juga, yah mungkin nanti setelah kita dihidupkan kembali kita akan tahu siapa yang jadi apa. Mudah-mudahan kita jadi pihak yang lebih baik.
By: Healthy Wealthy on October 24, 2007
at 12:44 am