Rame-rame tentang kemungkinan harga BBM naik. Tim ekonomi sudah membuat 86 skenario dari kenaikan harga BBM. Katanya sih, untuk mengurangi subsidi BBM dan menyalurkannya kepada yang lebih berhak. Tapi subsidi itu sebenarnya apa sih?
Kalau lihat dari wikipedia, subsidi itu artinya bantuan keuangan yang diberikan kepada sektor ekonomi. Diberikannya subsidi adalah untuk membuat harga murah secara artifisial agar bisa bersaing secara ekonomis terhadap barang dari luar. Soale, kalo ngga disubsidi entah harganya itu jadi mahal sehingga tidak terjangkau atau harganya kalah murah dengan produk dari luar.
Kalau dilihat-lihat, harga BBM seperti premium itu aslinya mahal. Misalnya satu galon di US, harganya bisa US$ 3 lebih. Bahkan di Belanda harganya US$ 9 lebih. 1 galon itu sekitar 3.79 liter. Anggap aja 1 US$ itu sama dengan Rp. 9000. Maka satu liter = 81000/3.79 atau lebih dari Rp. 20000. Nah di Indonesia itu harganya sekarang berapa? (Sori udah lama ngga beli bensin di Indonesia). Makanya kebayang banyak ngga berapa banyak uang yang harus dikeluarkan supaya rakyat Indonesia bisa beli bensin.
Tapi apa bener nih ada uang keluar? Atau cuma potensi kehilangan uang aja? Kan secara lahiriahnya ngga ada transfer uang dari pemerintah kepada Pertamina misalnya. Kalo kata teman saya sih, cuma potensi kehilangan uang aja. Dan menurut laporan keuangan untuk APBN 2008, lagi-lagi kata teman saya, Indonesia masih untung dari bisnis Migas.
Untungnya gimana? Ceritanya, pendapatan dalam negri dari sektor migas adalah 84 trilyun dari minyak dan 34 trilyun dari gas, dari komponen pajaknya sendiri dapat 42 trilyun. Total, 160 trilyun. (Wuih, uang semua tuh). Pengeluaran untuk subsidi segala macam (termasuk BBM, listrik, beras dll) adalah 76 trilyun. Nah artinya dari usaha Migas saja, sudah banyak untungnya. Apalagi dari usaha lain.
Lalu kenapa BBM harus tetap naik? Secara umum, BBM bisa dibilang bukan untuk konsumsi domestik. Itu lho, konsumsi rumahan. Iya sih, banyak orang yang punya mobil dan motor pribadi di rumahnya. Tapi kan kendaraan itu dipakai untuk kerja. Beda dengan misalnya listrik di rumah yang memang dipakai untuk keperluan rumah.
Kalo orang-orang kecil seperti saya, memang kendaraan kebanyakan dipakai untuk kepentingan kerja. Sebenarnya ngga harus kendaraan pribadi sih. Masa untuk mengangkut satu orang, perlu mobil 3000 cc. Yang ini namanya pemborosan BBM dan dia ikut menikmati subsidi yang dikasih pemerintah. Makanya pemerintah ingin mengurangi subsidi, supaya orang lebih tertarik pakai kendaraan angkutan umum dan supaya uangnya bisa dipakai oleh pihak yang lebih tepat.
Tapi bahasan selanjutnya, saya belum mengerti. Coba deh saya tunggu tanggapannya dari yang baca.
dengan dioperasionalkan busway, akan memberikan dampak kemacetan dimana2, sehingga orang akan terpaksa memilih menggunakan busway daripada menggunakan kendaraan pribadi..
klo aku sebagai bikers.. kayaknya masih tetep pake motor aja, walo macet *mudah2an* masih bisa selap sana selip sini..
By: oRiDo on May 7, 2008
at 3:08 am
wah, hal2 yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak, seperti BBM, idealnya memang jangan sampai memberatkan rakyat, pak iwan. tapi sepertinya pemerintah punya pertimbangan lain. kalau memang terpaksa dinaikkan, mestinya keuntungan yang diperoleh harus bisa dirasakan oleh rakyat. subsidi kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas.
By: sawali tuhusetya on May 7, 2008
at 4:58 am
@oRido, nanti orang lain juga mikir gitu. Akhirnya makin banyak bikers dan makin sempit juga jalan sampe ga bisa selip-selipan lagi hehehe
@Pak Sawali, kita mah husnudzon aja sama pemerintah bahwa mereka memang mikirin nasib rakyat, ngga cuma sekarang tapi juga buat masa depan. Kalo mikir sekarang aja mah, kan gampang tinggal nyetak uang buat subsidinya hehehe.
By: Healthy Wealthy on May 8, 2008
at 9:05 am
sepertinya harus terima kenaikan harga bbm
tinggal gimana kita menyiasatinya
antara lain mestinya transportasi massal yg ideal
ato satu kendaraan digunakan lebih dari satu orang
misal naik mobil ajak tetangga ato teman kantor
trus naik motor berboncengan, bisa skalian ngojek
By: edy on May 8, 2008
at 10:10 am
Selama angkutan massal belum dibenahi, semrawut, lambat, dan mahal, saya kira wajar kalo sekarang banyak orang yang males pake angkutan umum. Bener mahal lho, kalo saja saya berdua dengan istri naik angkot ke tempat kerja kudu ngeluarin setidaknya 20ribu PP. Dengan sepeda motor boncengan uang 20ribu cukup untuk 1 minggu PP bahkan lebih.
By: gajahkurus on May 8, 2008
at 11:25 am
Atuh, ngebandinginnya dengan sepedah montor. Bandingin dengan mobil juga dong hehehe.
Pake sepedah lebih murah lho Pak.
Lagi pula, angkutan massal nya ngga seperti angkot dong yang bagus mah. Pake LRT atau MRT itu lebih cocok, seperti kata Prof. Yanuarsyah Haroen, di Prancis orang itu kerja macam di Jakarta tapi rumah di Bandung. Ongkos murah karena yang diangkut banyak. Angkot mah, bikin jumlah kendaraan membanyak tanpa solusi yang menjanjikan. Tapi asli, daripada nunggu bis yang setengah jam sekali mending nunggu angkot 5 menit sekali yah hehehe.
By: Healthy Wealthy on May 8, 2008
at 11:32 am